Mengapa dengan Ilmu Sosial

Januari 19, 2008 at 8:15 am Tinggalkan komentar

A.      Mengapa dengan ilmu sosial

Ilmu pengetahuan alam semakin hari semakin berkembang, dan perkembangannya itu sedikit banyak juga mempengaruhi ilmu sosial. Namun tidak begitu halnya dengan ilmu sosial. Ilmu sosial kian lama semakin terlihat miskin teori. Mengapa hal ini bisa terjadi?

 

Para pakar ilmu sosial menyebut ilmu pengetahuan alam sebagai hard science, yaitu ilmu yang objeknya statik sehingga mudah mencari universalitas, sedangkan ilmu sosial disebut sebagai soft science yang objeknya selalu berkembang dan membuahkan hasil yang khas sehingga sangat kecil kemungkinan ditemukannya universalitas. Dari pernyataan tersebut, tersirat sebuah konsekuensi bahwasanya hasil penelitian ilmu pengetahuan alam mudah dikembangkan secara kontinu, sedangkan ilmu sosial hampir tidak mungkin dibangun kontinuitasnya. Namun jika dikaji lebih jauh lagi, sebenarnya kita bisa saja mencari universalitas dari soft science, yaitu keberlakuan prediksinya pada perubahan atau dinamika objeknya. Karena itu, kita patut risau jika produk-produk ilmu yang ada tidak dapat menghasilkan guna bagi masa depan, tidak dapat dipakai memprediksi (dalam artian teoretik) dan tidak dapat dipakai mengantisipasi (dalam artian operasional) kepentingan masa depan kita.

 

Banyak pertengkaran istilah di kalangan pakar ilmu sosial. Yang naïf dan lemah, seringkali hanya menampilkan perbedaan rumusan yang orang lain tidak tahu apakah ada perbedaan konsep teoretik ataupun operasionalnya. Yang patut dihargai karena adanya keajegan pandangan teoretiknya atau filosofinya atau paradigmanya mengkritik konsep lain kemudian menampilkan konsepnya sesuai teori, filsafat, atau paradigmanya. Ada pula yang arif bijaksana, yang mampu mendudukkan teori, filsafat, atau paradigm berbagai ahli sesuai dengan proporsinya. Dengan kata lain, mampu mendudukkan secara proporsional metodologi penelitian kualitatif, baik yang positivistik, rasionalistik, phenomenologik, maupun realisme metaphisik.

 

B.      Monisme multifaset

Phenomenologi mengakui bahwa kebenaran itu plural. Sebaliknya, positivisme, rasionalisme, serta realisme – yang masing-masingnya memiliki penekanan tersendiri untu menilai sebuah kebenaran – mengakui bahwa perbedaan itu tunggal namun berdimensi ganda. Jika kita menggunakan dasar kebenaran yang berbeda dalam menyelesaikan permasalahan keilmuan, tentunya takkan pernah ada titik temunya. Karena itu, kita dapat membangun approach by level (satu disiplin ilmu mengakui otoritas disiplin ilmu lainnya untuk mendapatkan validitas) di antara metodologi penelitian yang ada dengan bertolak dari integrasi wawasan ontologinya. Salah satu wawasan ontologi yang dapat diterapkan adalah mononisme multifaset. Emperi, kebenaran, dan realitas itu tunggal (monistik), namun menjadi beragam karena tampilannya. Kadang yang satu tampak lebih dominan dari yang lain, kadang juga terlihat beragam karena konteks dan situasinya. Semua itu tergantung pada objek serta karakteristik objek yang diteliti.

 

C.      Value Free dan Value Bond

Nilai etik penting dalam kehidupan manusia. Karena itu, nilai dapat juga dimasukkan sebagai kerangka acu filosofik bagi setiap penelitian, dengan tetap memberi alternatif untuk memasukkannya di dalam desain ataupun meletakkan di luar desain. Karena Indonesia negara yang berkeTuhanan, hendaklah nilai yang dimasukkan itu sejauh nilai yang transedental, sesuai dengan wahyu Allah.

 

Jika kita ingin memasukkan nilai dalam desain, kita bisa menggunakan phenomenologi ataupun realisme metaphisik. Sebaliknya jika tidak, kita boleh menggunakan rasionalisme atau positivisme.

 

D.      Perspektif proporsional

Jika kita mau menerima konsep monistik multifaset, maka kebenaran bersifat perspektif atau proporsional atau subjektif. Kebenaran perspektif akan menampilkan perspektif yang berbeda-beda, sedangkan kebenaran proporsial menekankan adanya peluang untuk mengambil alternatif tapi tetap terjaga sinkronisasi serta koherensinya. Sementara itu, kebenaran subjektif  bermaksud mengakui kejadian tak terduga, divergensi, dan keterbukaan.

 

Apabila kebenaran telah diakui sebagai monistik multifaset dan operasionalisasinya dapat diakui tampilan perspektif atau proporsional atau subjektif, maka kita harus mempertimbangkan kembali apakah hasil penelitian satu harus dipilah dari hasil penelitian lainnya ataukah ada hal lain yang dapat mempersatukannya. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah membuat hasil-hasil penelitian menjadi tongkat-tongkat kebijakan manusia, bukan hanya sebagai sesuatu yang tidak jelas gunanya.

 

E.       Determinisme dan Indeterminisme

Secara substansial, konsep ini menyangkut apakah kreativitas sosial manusia itu terikat pada sistem sosialnya atau tidak. Sementara itu, secara teologik, konsep ini menyangkut keyakinan apakah nasib manusia itu telah ditetapkan oleh Allah ataukah ada kebebasan untuk mengubahnya. Determinisme pada metodologi penelitian biasa ditampilkan dalam bentuk teknik prediksi linear atau parametrik, nonlinier, dan proyeksi. Sementara itu, indeterminisme tampil dalam konsep seperti divergensi, holographik, dan morphogenetik.

 

Penggunaan metodologi penelitian kualitatif akan lebih berharga jika dilengkapi konseptualisasi teoretik yang lebih luas mengupayakan penyajian grand-concepts atau mengupayakan mendekati objeknya secara holistic.

 

F.       Keterpercayaan

Konsep yang melandasi keterpercayaan hasil penelitian pada metode positivisme adalah rata-rata frekuensi atau keragaman beserta penyimpangannya dalam distribusi normal pada sebuah populasi. Konsep yang melandasi keterpercayaan hasil penelitian pada metode rasionalistik, phenomenologik, serta realisme metaphisik adalah diperolehnya hal esensial yang benar sesuai konteksnya dan terungkap sampai dasar-dasarnya yang paling dalam.

[kok gaya aku nulis koyok ngene?😛 gak kok, ini tugas kuliahnya ibukku, disuruh ngresume buku (aku yang disuruh ngresume,, sampe gak tidur, gara2 sebelum ngresume kelamaan curhat lewat gaim😀 )]

Entry filed under: colorful lessons. Tags: .

CPM nomer 4_ Don’t Need You To Tell Me I’m Pretty

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Statistik Blog

  • 31,598 kali dibuka

Tulisan Terdahulu

Yahoo! Messenger

PageRank


%d blogger menyukai ini: